Narkolepsi

Salah satu surat kabar menyebutkan adanya seorang anak  menderita narkolpesi setelah di vaksinasi pandemrix pada tahun 2009. Pandemrix adalah suatu vaksin  yang diindikasikan untuk mencegah virus H1N1 (flu babi). Pandemrix adalah vaksin inluenza H1N1 yang digunakan pada saat pandemik flu babi tahun 2009. Vaksin tersebut dikembangkan oleh GlaxoSmithKline yang dipatenkan pada September 2006. Akibat adanya efek samping yang dilaporkan pasien setelah divaksinasi pandemrix, maka The Swedish Medical Products Agency (MPA) dan The Finnish National Institute for Health and Welfare (THL) melakukan investigasi pada Agustus 2010 terkait efek samping Pandemrix tersebut khususnya pada anak-anak. Efek samping yang sering muncul yaitu narkolepsi dengan resiko pada anak-anak dan remaja sebesar 6.6 kali lebih tinggi.

Narkolepsi adalah salah satu gangguan tidur kronik yang meliputi gangguan secara kuantitas, kualitas maupun waktu tidur yang ditandai dengan rasa kantuk sepanjang waktu dan tertidur tiba-tiba. Gangguan tidur lainnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Image

 

Manifestasi klinik dari narkolepsi diantaranya

    1. Ditandai dengan serangan tidur, katapleksi, hypnagogic hallucination, dan kelumpuhan saat tidur (sleep paralysis)
    2. Mengeluh mengantuk berlebihan di siang hari, serangan tidur bisa berlangsung hingga 30 menit, hipersomnia, kelelahan, penurunan kinerja, dan gangguan tidur pada malam hari sehingga penderita sering terjaga sepanjang malam.
    3. Katapleksi adalah hilangnya gerakan otot secara bilateral yang dapat mengakibatkan koleps pada penderita, seringkali disebabkan oleh situasi penderita yang mengalami emosi dengan cepat
    4. Adanya kerusakan pada hypocretinorexin neurotransmitter system à proses autoimun

Adapun gejala yang timbul diantaranya

    1. Kelebihan waktu tidur. Penderita narkolepsi dapat tertidur dimanapun dan kapanpun. Contohnya, tertidur beberapa menit kemudian terbangun 30 menit kemudian tertidur lagi
    2. Katapleksi yang menyebabkan perubahan fisik, otot lemas tiba-tiba
    3. Sleep paralysis. Kehilangan kemampuan bergerak ketika tidur atau pun saat bangun, biasanya terjadi selama 1 atau 2 menit
    4. Hallusinasi disebut hypnagogic hallucinations, yang terjadi pada penderita narkolepsi saat REM sleep, atau saat mulai tidur pada malam hari. Pengalaman saat mimpi seolah-olah nyata.

Lalu bagaimana terapi untuk mengobati narkolepsi?  Ada 2 cara yaitu dengan terapi non-farmakologi maupun farmakologi.  Terapi non-farmakologi yang dapat diberikan adalah dengan pengaturan waktu tidur dan konseling sedangkan terapi farmakologi adalah dengan pemberian obat

    1. Stimulant ->   untuk menstimulus sistem saraf pusat merupakan terapi utama untuk membuat penderita terjaga sepanjang hari. Contoh : Modafinil (Provigil), Methylphenidate (Ritalin) atau amphetamine
    2. Antidepresan ->  untuk mengurangi gejala katapleksi, hypnagogic hallucinations dan sleep paralysis. Contoh: protriptyline (Vivactil) dan imipramine (Tofranil) dan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) seperti fluoxetine (Prozac, Sarafem) dan sertraline (Zoloft)
    3. Sodium oxybate (Xyrem) -> untuk mengontrol katapleksi -> disarankan Food and Drug Administration (FDA). Sodium oxybate membantu meningkatkan tidur malam. Pada dosis tinggi dapat mengontrol kantuk di siang hari walaupun diminum pada malam harinya. Efek samping: pernapasan terganggu sewaktu tidur, tidur berjalan, urinasi tiba-tiba.

Image

Adapun algoritma dalam menjalankan terapi narkolespi dijelaskan di bawah ini.

 Image

Jika pasien mengalami narkolepsi jenis kuantitas tidur yang berlebihan pada siang hari maka terapi yang dapat diberikan adalah dengan obat yang bersifat stimulan seperti modafinil.

Obat alternatif selain modafinil diantaranya sodium oxybate atau selegiline.

Sedangkan jika pasien mengalami narkolepsi jenis tidur paralisis, katapleksi dengan atau tanpa halusinasi maka terapi yang dapat diberikan adalah veniafaxine, fluoxetine, sodium oxybate.

Obat alternatifnya bisa dengan imipramine, protiptyline atau selegiline.

Modafinil merupakan suatu stimulan CNS / analeptik. Mekanisme kerja (MK) modafinil belum diketahui pasti dengan memberikan efek memicu keterjagaan. Modafinil diindikasibkan bagi pasien dengan kelebihan tidur pada siang hari terutaman berhubungan dengan narkolepsi. Modafinil dapat berinteraksi dengan obat lain seperti:

-Clomipramine: kadar plasma  Clomipramine meningkat oleh modafinil.

-Cyclosporine: kadar Cyclosporine dalam darah menurun akibat modafinil.

-MAO inhibitors (eg, isocarboxazid):diberikan dengan perhatian.

-Methylphenidate: Methylphenidate menunda absorpsi modafinil.

-Kontrasepsi oral : efikasi kontrasepsi berkurang akibat modafinil, meningkatkan resiko kehamilan yang tidak diinginkan.

-Phenytoin: modafinil meningkatkan toksisitas  phenytoin.

-Tricyclic antidepressants (TCAs [eg, clomipramine, desipramine]): modafinil meningkatkan kadar plasma TCAs.

-Warfarin: perlu adanya pemantauan waktu prothrombin.

Efek samping yang dapat timbul diantaranya : kardiovaskular [hipotensi, hipertensi, vasodilatasi, aritmia, sinkop], CNS[sakit kepala, pusing, depresi, ansietas, katapleksi, insomnia, diskinesia, pusing, amnesia, emosi labil], Kulit: herpes simpleks, kulit kering], GI [mual, diare, mulut kering, anoreksia, muntah, mulut ulser, gingivitis, haus], GU [urin abnormal, retensi urin, ejakulasi abnormal], Hati [gangguan fungsi hati], Metabolik [hiperglikemia, albuminuria], Respirasi [gangguan paru-paru, dispnea, asma, epitaksis], Lain-lain [parestesia, hipertonia, ataksia, tremor, nyeri dada, nyeri leher, kedinginan, leher kaku, gangguan sendi]

Modafinil diperingatkan bagi kehamilan dengan kategori C, menyusui belum dapat ditentukan, keamanan dan efikasi untuk anak < 16 tahun belum  ditetapkan, potensi terjadinya ketergantungan obat karena bersifat psikoaktif dan dapat menimbukan efek euforia maka modafinil berpotensi disalahgunakan serta bagi pasien dengan gangguan hati perlu adanya pengurangan dosis terutama bagi penderita hati berat.

Contoh sediaan Provigil, tablet [100 mg, 200 mg]

Selegiline merupakan antiparkinson, beraksi sebagai inhibitor monoamin aksidase (MAO) tipe B selektif sehingga dapat meningkatkan aktivitas dopaminergik. Enzim MAO bertindak dalam pemecahan dan serotonin, dengan adanya selegiline maka re-uptake dopamin pada sinaps akan terganggu sehingga aktivitas dopamin akan tetap ada. Selegiline diindikasikan untuk  idiopathic Parkinson’s disease sebagai terapi tambahan selain levodopa/carbidopa serta postencephalic parkinsonism/ parkinsonisme simtomatik.  Selegiline dapat berinteraksi dengan

-Fluoxetine: dapat menimbulkan sindrom “serotonin” (iritabilitas CNS, peningkatan tonus otot, penurunan kesadaran

-Meperidine: menyebabkan agitasi, kejang, diaforesis, demam, koma, apnea, kematian. Reaksi dapat muncul beberapa minggu setelah pemutusan selegiline.

Efek samping yang dapat timbul diantaranya : kardiovaskular [palpitasi, hipotensi ortostatik, aritmia, hipertensi, timbul atau peningkatan kejadian angina, sinkop], CNS: sakit kepala, pingsan, pusing, halusinasi, mimpi buruk, bingung, ansietas, insomnia, letargi, depresi, hilang keseimbangan, delusi, diskinesia, peningkatan gerakan tidak disadari, bradikinesia], kulit [berkeringat,  ruam kulit, fotosensitisasi], GI: mual, nyeri abdomen, muluit kering, diare], GU: disfungsi seksual, rentensi urin], lain-lain [nyeri lengan, sakit punggung, kehilangan berat badan].

Selegiline diperingatkan bagi kehamilan dengan kategori C, menyusui belum dapat ditentukan, efek pada anak belum dapat dievaluasi, penggunaan dosis melebihi 10 mg tidak boleh direkomendasikan karena akan timbul resiko yang berhubungan dengan inhibisi MAO nonselektif (jika dosis selegiline tinggi maka berpotensi terjadi interaksi antara obat dengan obat maupun makanan), selegiline  dapat diberikan bersamaan terapi yang mengandung amin aktif maupun makanan tiramin selama dosis tidak berlebihan, jika berlebihan maka beresiko terkena hipertensi krisis.

Contoh sediaan Carbex, Eldepryl, Selegiline HCl.

Veniafaxine merupakan antidepresan dengan cara meningkatkan aktivitas neurotrasmitter seperti  norepinephrine, serotonin, dan dopamine di CNS. Veniafaxine  diindikasikan untuk depresi, gangguan ansietas secara umum (venlafaxine ER). Veniafaxine dikontraindikasikan bagi penggunaan bersama MAOIs.

Veniafaxine dapat berinteraksi dengan

– Desipramine, Haloperidol: kadar plasma  Desipramine, Haloperidol meningkat akibat venlavaxine sehingga meningkatkan resiko efek samping.

-MAOIs: MAOIs menimbulkan reaksi serius bahkan fatal jika diberikan bersama  venlafaxine. Jangan digunakan secara bersama, gunakanvenlafaxine  terlebih dahulu kemudian 7 hari setalah venlafaxine dihentikan, MAOIs dapat digunakan. St. John’s Wort: peningkatan efek hipnotik-sedatif dapat terjadi.

-Sibutramine, Sumatriptan, Trazodone: sindrom “serotonin” meliputi iritabilita, peningkatan tonus otot, menggigil, mioklonus dan penurunan kesadaran dapat terjadi.

Efek samping yang dapat timbul diantaranya Kardiovaskular [hipertensi, migrain, vasodilatasi, takikardia, hipotensi postural],  CNS [Insomnia, somnolence, ansietas, sakit kepala, gugup, pusing, tremor, asthenia, mimpi buruk, hipertonia, parestesi, agitasi, bingung, berpikir abnormal, depersonalisasi, kejang], Kulit [berkeringat, ruam, pruritus], GI [mual, anoreksia, mulut kering, konstipasi, disfagia, diare, muntah, dispepsia, kembung, hilang berat badan], GU [ejakulasi abnormal, disuria, hematuria, peningkatan BUN, vaginitis, penurunan libido, retensi  urin, impotensi, gangguan urinasi, gangguan menstruasi], Hematologi[Ecchymosis], Hati[ peningkatan hasil LFT maupun bilirubin], Metabolik [edema perifer:kenaikan berat], respirasi [dispnea], lain-lain [faringitis, infeksi, bersin, nyeri dada, trauma, mengantuk].

Veniafaxine  diperingatkan bagi kehamilan dengan kategori C, obat ini diekskresikan dalam air susu, keamanan  dan efikasi bagi pasien anak <18 tahun belum ditetapkan, berikan perhatian lebih kepada pasien lansia, pasien dengan riwayat kejang, mania, gagap, penyalahgunaan obat dan ketergantungan, perlu adanya pengurangan dosis bagi pasien dengan gangguan hati atau ginjal, tekana darah pasien hipertensi perlu dipantau dengan ketat, perlu adanya pengurangan dosis jika penggunaan obat akan dihentikan.

Contoh sediaan Effexor[tablet 25 mg, 37.5 mg, 50 mg,75 mg, 100 mg] dan Effexor XR [Capsules, extended-release 37.5 mg, 75 mg, 150 mg]

Imipramine merupakan antidepresan trisiklik, bekerja dengan menghambat re-uptake norepinephrine  dan serotonin secara perlahan di CNS. Imipramine diindikasikan untuk gejala depresi, enuresis pada anak  ³ 6 tahun. Penggunaan lainnya seperti nyeri kronik, gangguan panik, gangguan makan (bulimia nervosa), pemutusan kokain.  Imipramine dikontraindikasikan bagi pasien hipersensitif terhadap antidepresan trisiklik.  Imipramine dapat berinteraksi dengan

-Carbamazepine: penurunan kadar imipramine dan peningkatkan kadar carbamazepine.

-Cimetidine, fluoxetine: meningkatkan kadar imipramine dan efeknya.

-Clonidine: menyebabkan hipertensi krisis

-CNS depressants: efek depresan dapat bertambah

-Dicumarol: aksi antikoagulan dapat meningkat

-Guanethidine: hipotensi dapat dihindari

-MAO inhibitors: menyebabkan hiperpiretik krisis, konvulsi berat dan kematian.

Efek samping yang dapat timbul diantaranya kardiovaskular [hipertensi ortostatik, takikardia, palpitasi, aritmia, perubahhan EEG, stroke, serangan jantung], respirasi [faringitis, rinitis, sinusitis, laringitis, batuk], CNS [bingung, halusinasi, delusi, gugup, gelisah, agitasi, panik, insomnia, mimpi buruk, mania, pusing, lemah, kebas, sindron ekstrapiramidal, emosi labil, kejang, tramor], GI [mual, muntah, anoreksia, diare, kembung, mulut kering, konstipasi],  GU [impotensi, disfungsi seksual, nokturia, vaginitis, sistitis, dismerorea, amenorea, rentensi urin], hematologi [depresi sumsum tulang seperti agranulositosis, eosinofil, purpura, trombositopenia, leukopenia], hati [hepatitis, jaundice], kulit [ruam,pruritus, fotosensitif, kulit kering, jerawat, gatal], metabolik [peningkatan atau penurunan gula darah], lain-lain [pembesaran payudara].

Imipramine diperingatkan bagi kehamilan dengan kategori D, diekskresikan melalui air susu,  keamanan dan efikasi penggunaan pada anak <6 tahun sebagai terapi tambahan enuresis nokturnal dan anak  ³ 6 tahun untuk penggunaan kronik belum ditetapkan, jangan digunakan melebihi  2.5 mg/kg/hari, berikan perhatian lebih kepada penderita dengan gangguan kardiovaskular.

Contoh sediaan Tofranil, Tofranil-PM,  Apo-Imipramine, Impril, Novo-Pramine, PMS-Imipramine

Protiptyline merupakan antidepresan trisiklik, bekerja dengan menghambat re-uptake norepinephrine dan serotonin pada CNS. Protiptyline diindikasikan untuk gejala depresi mental, obstructive sleep apnea dan gangguan panik. Protiptyline dikontraindikasikan bagi yang hipersensitif terhadap antidepresan trisiklik, tidak dikombinasikan dengan MAOIs. Protiptyline dapat berinteraksi dengan

-Cimetidine, fluoxetine: meningkatkan kadar dan efek protriptyline.

-CNS depressants: penembahan efek depresan.

-Clonidine: menimbulkan hipertensi krisis.

-Dicumarol: peningkatanaksi antikoagulan

-Guanethidine: guanethidine menginhibisi hipotensi

-MAO inhibitors: hipertermia, konvulsi, kematiain

-Sympathomimetics, direct-acting (eg, norepinephrine, phenylephrine): peningkatan respon pressor

-Sympathomimetics, indirect-acting (eg, dopamine, ephedrine): penurunan respon pressor

Efek samping yang dapat timbul diantaranya kardiovaskular [ hipertensi ortostatik, takikardia, palpitasi, aritmia], CNS [bingung, halusinasi, delusi, gugup, gelisah, agitasi, panik, insomnia, mimpi buruk, mania, pusing, lemah, kebas, disorientasi],  Kulit [ ruam,pruritus, fotosensitif, kulit kering, gatal], GU[ impotensi, disfungsi seksual, nokturia, dismenorea, amenorea, retensi urin], hematologi [depresi sumsum tulang seperti agranulositosis, eosinofil, purpura, trombositopenia, leukopenia], metabolik [peningkatan atau penurunan gula darah], lain-lain [kebas, pembesaran payudara, sindrom ekstrapiramidal]

Protiptyline diperingatkan bagi kehamilan dengan kategori  undetermined, diekskresikan melalui air susu, tidak direkomendasikan bagi anak-anak, berikan perhatian lebih pada pasien dengan riwayat kejang, retensi urin, spasmus uretra, gangguan kardiovaskular, hati ataupun ginjal, skizofrenia, paranoid.

Contoh sediaan Vivactil,  Triptil

Sumber:

A to Z Drug Facts, David S. Tatro et al, 2003

Pharmacotherapy Handbook 7th ed, Barbara G. Wells, 2009

http://en.wikipedia.org

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: