Farmasi kilinik – part 2

Praktikum farmasi klinik yang kedua ini memiliki tujuan sama dengan sebelumnya, yaitu mengkaji resep di salah satu apotek kemudian mengevaluasi kelengkapan resep, ketepatan resep, indentitas obat yang diresepkan, informasi obat yang harus disampaikan kepada pasien dan memprediksi kemungkinan terjadinya DRP🙂

soal:

Resep 5

#001XX

dr.DP

Bandung, 02 Desember 2009

R/ INH 300

No.XXX

∫1dd1

R/ Rifampisin 450

No.XXX

∫1dd1

R/ Glimepirid 2mg

No.XXX

∫1dd1*

*½ jam sebelum makan pagi

Ny. MU

jawaban:

Kelengkapan Resep

No

Komponen Resep/ Pesanan Obat Bebas

Ada/Tidak

Keterangan

1

Nama Pasien

Ny. MU

2

Umur pasien

x

3

Nama dokter dan sip

dr.DP

4

Tanggal resep

02 Desember 2009

5

Superscription

R/

6

Inscription dan signa

INH 300 No.XXX

1dd1

Rifampisin 450 No.XXX

1dd1

Glimepirid 2 mg No.XXX

1dd1

7

Subscription

X

8

Tanda tangan dokter

X

Ketepatan resep

No

Komponen Resep

Penjelasan

Tepat/ Tidak Tepat

Keterangan

1

Nama pasien

Merupakan identitas resep yang penting terutama untuk menghindari jesalahan pemberian obat

Tepat

Ny. MU

2

Umur pasien

Penting untuk identifikasi pasien dan memastikan kesesuaian dosis obat yang diterima pasien (terutama pada pasien anak),data umur kemungkinan ada pada rekam medik (tidak dapat diakses bebas)

Tidak tepat

3

Nama dokter dan sip

Untuk memastikan resep ditulis oleh dokter yang telah memiliki otoritas

Tepat

dr.DP

4

Tanggal resep

Sebagai informasi tanggal penulisan resep

Tepat

2 Desember 2009

5

Superscription

Penanda resep

Tepat

R/

6

Inscription dan signa

Memberi informasi obat, bentuk sediaan, serta kekuatan obat yang diresepkan serta aturan pakainya

Tepat

INH 300

No.XXX

1dd1

Rifampisin 450

No.XXX

1dd1

Glimepirid 2 mg

No.XXX

1dd1

7

Subscription

Memberi informasi bentuk sediaan yang akan diracik (khusus untuk obat racikan)

Tepat (bukan obat racikan)

8

Tanda tangan dokter

Sebagai bukti bahwa resep benar-benar ditulis oleh dokter yang bersangkutan)

Informasi Obat

Berdasarkan obat yang diberikan, pasien kemungkinan mengalami tuberkulosis dan diabetes.

  1. Informasi Untuk Profesional:

INH

  • Zat Aktif

isoniazida

  • Indikasi

tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain; profilaksis

  • Mekanisme Kerja:

bakterisid terhadap bakteri intrasel dan ekstrasel pada fase pembelahan.

  • Kontra Indikasi

penyakit hati yang aktif; hipersensitivitas terhadap isoniazid

  • Efek Samping

mual, muntah, neuritis perifer, neuritis optik, kejang, episode psikosis; reaksi hipersensitivitas seperti eritema multiforme, demam, purpura, agranulositosis; hepatitis (terutama pada usia lebih dari 35 tahun); sindrom SLE, pellagra, hiperglikemia dan ginekomastia.

  • Interaksi obat

Dengan rifampisin, untuk meningkatkan efektivitas eradikasi bakteri.

  • Dosis dan Aturan Pakai

5 mg/kg bb (4-6 mg/kg bb) per hari, maks 300 mg/hari;

atau

10 mg/kg bb tiga kali seminggu atau 15 mg/kg bb dua kali seminggu.

Profilaksis: 300 mg/hari selama 6 bulan atau lebih.

Rifampisin

  • Zat Aktif

rifampisin

  • Indikasi

bruselosis, legionelosis, infeksi berat stafilokokus, tuberkulosis

  • Mekanisme Kerja:

bakterisid terhadap bakteri yang dorman

  • Kontra Indikasi

Penyakit hati dan ginjal.

  • Efek Samping

mual, muntah, anoreksia, diare; sindrom influenza, gangguan respirasi (napas pendek), kolaps dan syok, anemia hemolitik, anemia, gagal ginjal akut, purpura trombositopenia; gangguan fungsi hati, ikterus; flushing, urtikaria, ruam.

  • Interaksi obat

Pil KB, kortikosteroid, fenitoin, sulfonylurea dan antikoagulan. Dengan INH, dapat meningkatkan efektivitas eradikasi bakteri.

  • Dosis dan Aturan Pakai

10 mg/kg bb (8-12 mg/kg bb) per hari, maksimum 600 mg/hari, dua atau tiga kali seminggu.

Pemberian sebaiknya 30 menit sebelum makan

Glimepirid

  • Zat Aktif

glimepirid

  • Indikasi

diabetes melitus tipe 2

  • Mekanisme Kerja:

Meningkatkan sekresi insulin sehingga efektif hanya jika masih ada aktivitas sel beta pankreas .

  • Kontra Indikasi

Penyakit hati, gagal ginjal, dan porfiria. Pada wanita hamil dan menyusui.

  • Efek Samping

Peningkatan berat badan, mual, muntah, diare dan konstipasi. Gangguan fungsi hati, hipersensitivitas.

  • Interaksi obat

Dengan rifampisin.

  • Dosis dan Aturan Pakai

dosis awal 2.5 – 5 mg sehari; dosis maks harian 20 mg; sampai 15 mg dapat diberikan sebagai dosis tunggal.

  • Pasien yang menggunakan kontrasepsi oral, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter karena ada kemungkinan kontrasepsi yang digunakan tidak bekerja maksimal.
  • Pasien dan pengantarnya diberitahu cara mengenal gejala gangguan fungsi hati dan dinasehatkan untuk segera menghentikan obat dan memeriksakan diri bila timbul nausea persisten, muntah, lesu atau ikterus.
  1. Informasi untuk Pasien :
  • Penggunaan INH dan rifampisin dilakukan sesuai jadwal, jangan sampai pengobatan terputus untuk mencegah resistensi bakteri dan efek samping yang serius. Jika pengobatan terputus, segera hubungi dokter atau profesional kesehatan yang lain.
  • Adanya kemungkinan perubahan warna pada urin dan warna lensa kontak (bagi yang menggunakan). Pasien tidak perlu panik, karena hal tersebut merupakan hal yang wajar karena pasien menggunakan rifampisin.
  • Untuk pengonsumsian glimepirid, sebaiknya digunakan 30menit sebelum makan.

Kemungkinan adanya DRP

Adanya interaksi rifampisin dengan glimepirid (golongan sulfonilurea) ->  rifampisin dapat meningkatkan kecepatan metabolisme glimepirid sehingga ada kemungkinan glimepirid tidak berefek secara maksimal.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: