Farmakoterapi – psoriasis

 

Definisi

 

Psoriasis adalah penyakit kulit kronis yang fase akutnya dapat muncul sewaktu-waktu karena beberapa faktor penginduksi. Ciri utama psoriasis adalah munculnya plak-plak keratin pada kulit yang disertai kemerahan. Pada penderita psoriasis, keratinisasi terjadi lebih cepat pada sel-sel epidermis sehingga penumpukan keratin di lapisan teratas kulit menyebabkan kulit tampak bersisik dan kasar. Akantosis sering juga terjadi (penebalan epidermis karena hiperplasia yaitu sel bertambah banyak dan hipertropi yaitu pembesaran sel epidermis. Kedua hal ini terutama terjadi di stratum spinosum) sehingga terjadi pendesakan epidermis ke arah lapisan dermis. Pada lapisan dermis yang terdesak ini terjadi inflamasi yang ditandai dengan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah sehingga lesi psoriasis tampak kemerahan dan kadang terbentuk benjolan.

 

Epidemiologi

 

Prevalensi di seluruh dunia sangat sedikit, hanya sebanyak 0.1-3%, tetapi ini juga disebabkan karena tidak semua kasus dilaporkan. Terdapat perbedaan prevalensi antar ras, dimana ras Skandinavia mempunyai prevalensi terbesar. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan genetik antar ras. Penyakit ini dapat menyerang pasien semua umur, pria maupun wanita, dan gejala dapat muncul di berbagai tempat di tubuh. Lesi pertama umumnya muncul di usia 15-30 tahun (tipe 1) atau antara usia 50-60 tahun (tipe 2). Tetapi 70% kasus psoriasis muncul pada usia di bawah 40 tahun.

 

Patofisiologi

 

Penyakit ini disebabkan karena faktor genetik dan pemunculannya diinduksi oleh faktor lingkungan. Pada psoriasis, terjadi abnormalitas pada ekspresi DNA sel sehingga sintesis DNA meningkat, yang akan menyebabkan:

  • Aktivitas mitosis sel meningkat sehingga sel lebih cepat membelah
  • Waktu transit keratinosit di sepanjang lapisan epidermis menurun sehingga keratin cepat menumpuk di lapisan teratas kulit
  • Terjadi ekspresi gen yang memproduksi keratin 6 dan 16 yang normalnya hanya terbentuk pada jaringan yang rusak. Pada kulit normal hanya terdapat keratin 5 dan 14. Keratin 6 dan 16 ini merupakan keratin yang mempunyai laju pembelahan lebih cepat dari keratin biasa sehingga biasanya dipakai untuk membetulkan jaringan rusak.

 

Dalam psoriasis, dikenal istilah fenomena Koebner, yaitu kecenderungan terbentuk lesi pada daerah traumatik pada kulit, misalnya siku, lutut, dan leher. Trauma ini dapat disebabkan oleh friksi mekanis, paparan sinar matahari, atau penyakit pada masa anak-anak seperti cacar.

 

Mekanisme sistem imun

 

Pada penderita psoriasis, terdapat antigen permukaan yang abnormal pada keratinosit (antigen ini muncul karena abnormalitas pengkodean DNA pada lengan kromosom 17 dan 6) -> antigen ini menginduksi MHC menempel -> kompleks MHC – antigen mengirimkan sinyal ke sel T -> induksi pelepasan sitokin (interleukin, TNF, interferon, dan sebagainya) – inflamasi dan peningkatan pembelahan di stratum germinativum -> plak yang disertai kemerahan dan berdarah jika terkelupas. Antigen ini dapat terbentuk karena penyakit yang diderita sewaktu kanak-kanak. Infeksi Streptococcal juga dapat menginduksi pembentukan antigen abnormal karena adanya superantigen.

 

Jenis-jenis

 

Psoriasis terbagi dalam 5 jenis, yaitu psoriasis plak, guttate, inversus/seborrhooeic, eritrodermal, dan pustular.

  • Psoriasis plak merupakan jenis yang paling umum diderita dimana gejala yang timbul adalah eritema dan plak keperakan bersisik (terutama pada sendi). Jika plak ini digosok, kulit di sekitar dapat berdarah karena pembuluh di daerah lesi biasa terdilatasi (sehingga gejala eritema tersebut muncul).
  • Psoriasis guttate umumnya terjadi pada anak-anak setelah infeksi Streptococcus. Lesi yang berbentuk kecil, tetapi tersebar seperti benjolan kemerahan. Gejala yang dominan adalah eritema, biasanya jarang disertai plak.
  • Psoriasis inversus/seborrhoeic biasanya terjadi di kepala dan bagian tubuh yang terlipat seperti ketiak dan siku. Gejala yang paling utama adalah retakan merah di bagian kulit yg terlipat. Pada bagian lembah retakan kulit terlihat terang atau keperakan, tetapi pada bagian sekitar retakan kulit memerah dan disertai penumpukan sisik dari keratin.
  • Psoriasis eritrodermal mempunyai gejala eritema yang terparah. Lesi bersisik pada psoriasis jenis ini lebih jarang terjadi. Eritema yang terjadi disebabkan karena dilatasi pembuluh darah di jaringan dermis pada daerah lesi. Dilatasi pembuluh darah ini menyebabkan aliran darah meningkat sehingga tubuh tidak dapat mengendalikan panas dan dapat menyebabkan gagal jantung.
  • Psoriasis pustular ditandai oleh lesi bersisik yang terkadang menjadi nanah. Vaskularisasi pembuluh darah juga sering terjadi sehingga permeabilitas membran yang berubah mengakibatkan cairan keluar dari sel dan cairan tersebut memenuhi jaringan bawah kulit. Keluarnya cairan dalam jumlah besar dapat mengakibatkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh hingga mencapi tingkat yang tidak bisa ditolerir oleh jantung. Psoriasis pustular ini merupakan jenis psoriasis yang masih sulit diobati dengan terapi yg tersedia saat ini.

 

Penebalan jaringan epidermis ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, antara lain artropati pada sendi, kerusakan kuku, dan penumpukan jaringan mati (kapalan).

 

Diagnosis

  • Identifikasi karakteristik lesi, lalu tentukan jenisnya
  • Identifikasi riwayat kesehatan termasuk informasi onset dan durasi lesi, sejarah keluarga, faktor lingkungan, sejarah terapi antipsoriasis (informasi efikasi dan efek samping), paparan senyawa kimia, toksin, dan alergi (makanan, obat)
  • Konfirmasi lebih lanjut dengan biopsi kulit dari kulit yang lesi

 

Tujuan terapi :

  • Normalisasi kulit dengan mengurangi atau menghilangkan eritema, papula, sisik dan plak.
  • Meningkatkan kualitas hidup penderita
  • Meminimalisasi kontak pasien dengan faktor penyebab

Pertimbangan terapi

 

Terapi untuk psoriasis terdiri dari terapi nonfarmakologi dan farmakologi. Dalam terapi psoriasis, hal-hal yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan terapi adalah:

  • Umur dan kondisi kesehatan pasien
  • Jenis psoriasis
  • Bagian tubuh dan luas area lesi
  • Terapi yang pernah dilakukan (gagal atau berhasil)
  • Pengaruh psoriasis pada kehidupan pasien

Terapi nonfarmakologi

Terapi nonfarmakologi untuk psoriasis terdiri dari emolien, balneoterapi, dan fototerapi.

  • Emolien merupakan terapi pertama yang umum digunakan pada penderita psoriasis. Tujuan penggunaan emolien ini adalah untuk meminimalkan penyebaran lesi, mengobati sisik dan kulit yang pecah-pecah, dan mencegah kekeringan kulit yang dapat memperparah kerusakan kulit. Emolien tersedia dalam bentuk sediaan lotion, krim, dan salep. Efek samping dari pemakaian emolien adalah reaksi alergi, iritasi, dan kerontokan rambut.
  • Balneoterapi merupakan metode terapi dengan merendam tubuh dalam air garam di bawah paparan sinar matahari. Kombinasi garam dengan sinar UV dapat mereduksi jumlah sel T yang teraktivasi pada kulit.
  • Fototerapi adalah metode terapi yang memakai sinar UVA dan UVB. Terapi UVB biasanya dikombinasikan dengan penggunaan emolien, methotrexate, atau retinoid oral karena dapat meningkatkan efikasi UVB. Jika pasien menggunakan terapi sediaan topikal, terapi-terapi tersebut boleh digunakan minimal 2 jam sebelum atau sesudah terapi karena UVB dapat merusak sebagian besar zat aktif pada sediaan topikal. Sedangkan terapi UVA (PUVA) lebih diperuntukkan untuk pasien penderita psoriasis sedang-berat yang tidak peka terhadap pengobatan topikal maupun sistemik. Dua jam sebelum menjalani terapi UV-A, pasien dianjurkan memakan obat methoxalen (8-methoxypsoralen) dosis 0.6-0.8 mg/kg (dosis tergantung keadaan maupun sejarah pengobatan pasien terhadap penggunaan radiasi). Pengobatan ini dapat dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.

 

Terapi farmakologi – topikal

Pengobatan untuk psoriasis ringan-sedang

Pilihan pertama Pilihan kedua
•       Keratolitik

•       Kortikosteroid

•       Analog vit D

•       Tazarotene

•       Terapi farmakologi – sistemik

•       Coal tar

•        Anthralin/dithranol

 

Terapi farmakologi – sistemik

Pengobatan untuk psoriasis sedang-berat

Pilihan pertama Pilihan kedua
•       Infliximab

•       Etanecept

•       Adalimumab

•       Alefacept

•       Efalizumab

 

•       Acitretin

•       Cyclosporine

•       Tacrolimus

•       Methotrexate

•       Mycophenolate mofetil

•       Sulfasalazine

•       6-Thioguanine

•       Hydroxyurea

 

Kombinasi:

•       Acitretin + UVB

•       Acitretin + PUVA

•       Methotrexate + UVB

•       PUVA + UVB

•       Methotrexate + Cyclosporine

 

Terapi farmakologi – topikal

Keratolitik

•       Asam salisilat dipakai di kulit kepala dan area penebalan kulit yang parah

•       Untuk mengurangi pelebaran lesi, menghaluskan kulit, dan menurunkan hiperkeratosis

•       penggunaan: 2 – 10% gel atau lotion dua /tiga kali sehari

•       Dapat terabsorbsi dan menyebabkan salisilasmik: nausea, muntah, tinnitus, hiperventilasi

Kortikosteroid

•       MK: menghentikan sintesis dan mitosis DNA pada sel epidermis dan menghambat kerja enzim fosfolipase A à menurunkan jumlah asam arakidonat, prostaglandin, leukotrien à vasokonstriksi, mengurangi: eritema, pruritus, dan pelebaran lesi.

•       Fluorinate, triamcinolone 0,1 % dan flucinolone topikal -> untuk anak

•       Preparat hidrokortison 1%-2,5% -> untuk fase akut dan pemeliharaan.

•       Kombinasi dengan asam salisilat

•       Sediaan:  gel, lotion, larutan, krim, serta salep

•       Penggunaan: diaplikasikan dua/empat kali sehari selama terapi

•       ES: atropi jaringan, degradasi kulit, pemakaian jangka panjang : hypothalamic pituitary adrenal axis (HPA) -> pemeriksaaan level serum kortisol.

Analog vit D

•       Merupakan sintetik vit D; Calciotriene (Dovonex), calcitriol, tacalcitol

•       MK: induksi pembelahan epidermis secara normal, menghambat diferensiasi dan proliferasi keratinosit, dan sebagai antiinflamasi dengan menurunkan kadar IL-8, IL-2 dan sitokin

•       Penurunan sisik dan eritema dengan cepat; bersih, tidak bau

  • penggunaan: Calcipotriene 0.005% krim, salep, dan suspensi diaplikasikan satu/dua kali sehari
  • ES: hiperkalsemia, rasa terbakar dan tersengat, dapat pula telihat eritema dan skuamasi.

Tazarotene (Tarozac)

•       Retinoid sintetik; derivat vitamin A

•       Prodrug à dalam tubuh menjadi aktif à asam tazarotenat

•       MK: mengatur proliferasi dan diferensiasi keratinosit

•       Untuk psoriasis plak ringan-sedang

•       Bila dikombinasikan dengan steroid topikal (kortikosteroid) à mengurangi efek samping lokal (iritasi) dan meningktakan efikasi à mempercepat penyembuhan

•       Penggunaan: 0.05% atau 0.1% gel atau krim diaplikasikan sekali sehari (sore hari)

•       ES: pruritus, rasa terbakar, eritema

Coal tar

  • MK: Aktivitas antimitotik
  • untuk psoriasis sedang

•       Kombinasi:          UVB à sinergis  : menghambat sintesis DNA

asam salisilat à sampo

  • Sediaan:  lotion, krim, sampo, salep, gel, suspensi
  • Penggunaan: 2-5% tar diaplikasikan pada lesi (sore hari)

•       Menyebabkan iritasi lokal, bau tidak sedap,  kotor pada tangan dan pakaian, sensitif terhadap UV (matahari), karsinogenik

Anthralin

•       Efektif pada Psoriasis Gutatte.

•       MK: inhibisi mitosis -> menurunkan kecepatan pembelahan keratin

•       Konsentrasi 0,2-0,8% dalam pasta, salep, atau krim.

•       Metode Ingram: kombinasi anthralin + tar + UVB -> lesi menghilang dalam 2-3 minggu

•       Cara pakai: kulit normal sekitar lesi harus ditutupi parafin putih dulu à area lesi dioles pasta anthralin

•       Penggunaan: Lama pemakaian hanya ¼ – ½ jam sehari sekali untuk mencegah iritasi; penyembuhan dalam 3 minggu

•       Dapat mewarnai kulit dan pakaian.

 

 

 

Terapi farmakologi – sistemik

Infliximab (Remicade)

•       Suatu chimeric monoclonal antibody yang secara langsung melawan TNF-α

•       TNF-α sangat berperan dalam patogenesis psoriasis = stimulasi sintesis sitokin dan keratinosit

•       MK: Afinitas chimeric monoclonal antibody untuk berikatan dengan TNF-α tinggi, sehingga pengikatan TNF-α terhadap reseptor dapat dihindari, akibatnya, patogenesis psoriasis tidak muncul

•       Dosis: iv, 5 atau 10 mg/kg, 3x dalam seminggu (minggu 0,2, dan 6)

•       ES: sakit kepala, demam, diare, hipersensitivitas

•       Tidak menyebabkan toksisitas pada organ, darah, enzim hati, fungsi ginjal

Etanercept (Enbrel)

•       Merupakan TNF-α blocker

•       MK: Menghambat TNF-α dengan berikatan pada reseptor sehingga aktivitas sitokin dapat dihambat

•       Untuk psoriasis arhtritis

•       ES: Rx lokal di tempat penyuntikan, infeksi GIT dan sal.pernapasan

•       Dosis: sk, 50 mg, 2x dalam seminggu

Adalimumab (Humira)

•       Monoclonal TNF-α antibody

•       MK: Inaktivasi proinflamasi sitokin TNF-α

•       Untuk psoriasis arthritis

•       Dosis: sk, initial dose minggu pertama 80mg, selanjutnya 40mg, sekali dalam seminggu

•       ES: faringitis, sakit kepala, sakit dan radang di tempat penyuntikan

Alefacept (Amevive)

•       MK: Menghambat aktivasi dan proliferasi sel-T

•       Untuk proriasis sedang-berat, psoriasis arthitis

•       ES: faringitis, mual, peradangan di tempat penyuntikan,

•       Dosis: im, 15 mg, 1x dalam seminggu, selama 12 minggu

Efalizumab (Raptiva)

•       Humanized monoclonal antibody

•       MK: Melawan CD11-α integrin

•       CD11-α = molekul pada permukaan sel-T, penting untuk aktivasi fungsi sel-T, migrasi sel-T ke kulit

•       Untuk psoriasis ringan-sedang

•       ES: sakit kepala, mual, demam

•       Dosis: sk, 1 mg/kg, 1x dalam seminggu

Acitretin (Soriatane)

  • Retinoid (turunan vitamin A sintetik)
  • Vitamin A diperlukan dalam ekspresi gen untuk keratinisasi normal
  • Untuk psoriasis berat, tipe pustular dan eritroderma
  • Kombinasi dengan PUVA à menurunkan dosis
  • Dosis: oral, 25-30 mg perhari selama 2-4 minggu; makanan dapat meningkatkan absorpsi obat
  • ES:Bibir dan rongga hidung kering (diatasi dgn emolien); Meningkatkan kolesterol dalam darah (perlu interval 3-6 bulan)
  • KI: kehamilan (Teratogenik)

Cyclosporine

•       Imunosupresif -> Digunakan bila tidak memberikan respon dengan pengobatan konvensional.

•       Untuk psoriasis berat, imunosupresif

•       Cepat menghilangkan lesi; lesi muncul lagi jika pengobatan dihentikan

•       Dosis: Oral; Inisial: 2-4 mg/kg perhari, pemeliharaan: 0.5-1 mg/kg perhari; jika dalam 1 bulan tidak sembuh, dosis ditingkatkan hingga 5 mg/kg perhari

•       Efek ke ginjal berat (perlu pemeriksaan TD tiap bulan, creatinine clearance tiap 3-6 bulan)

•       Bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik, gastrointestinal, flu like symptoms, hipertrikosis, hipertrofi gingiva, serta hipertensi

Tacrolimus

•       Makrolida

•       MK: Menghambat aktivasi sel T

•       Dosis untuk proriasis plak: oral, 0.05 mg/kg perhari, meningkat sampai 0.1 mg/kg perhari mulai minggu ketiga,  0.15 mg/kg perhari mulai minggu keenam

•       ES: diare, mual, hipertensi, tremor, dan insomnia

Methotrexate

•       Antimetabolit; analog asam folat

•       MK :  menghambat dihidrofolat reduktase -> menghambat sintesis DNA -> antimitotik pada epidermis.

•       Metotreksat 10-100 kali lebih efektif dalam menghambat proliferasi sel-sel limfoid.

•       Untuk psoriasis berat,tipe psoriasis arthritis; kerja cepat

•       Dosis: Oral, intravena, intramuscular; 7.5-15 mg perminggu, dosis ditambah 2.5 mg setiap 2- 4  minggu hingga timbul respon; dosis maksimal perminggu 25 mg

•       ES: depresan sumsum tulang, fibrosis hati, nyeri kepala, alopesia, kerusakan kromosom, aktivasi tuberkulosis, nefrotoksik, juga terhadap saluran cerna

•       KI : kelainan hepar, insufisiensi ginjal, sistem hematopoietik, kehamilan (teratogenik), penyakit infeksi aktif (misalnya tuberkulosis), ulkus peptikum, kolitis ulserosa, dan psikosis.

Mycophenolate mofetil (CellCept)

•       Semisynthesis morpholinoester dari mycophenolic acid

•       Digunakan sebagai obat kombinasi proriasis sedang-berat tipe plak

•       MK: Memblok sintesis guanin pada nukleotida dalam pembentukan DNA dan RNA

•       ES: toksisitas pada sal.pencernaan, efek hematologi, peningkatan infeksi oleh bakteri maupun virus

•       Dosis: 500 mg 4x sehari, ditingkatkan hingga 4g perhari

Sulfasalazine

•       MK: Obat antiinflamasi yang menghambat 5-lipoxygenase

•       Untuk psoriasis arthritis (alternatif)

•       Memiliki rentang keamanan relatif tinggi

•       Dosis: oral, 3-4 g per hari selama 8 minggu

6-Thioguanine

•       Analog purin, sebagai antimetabolik fase-S pada pembelahan sel

•       Hepatotoksik 6-thioguanine < methotrexate

•       Obat alternatif bagi penderita prosiasis berat yang disertai penyakit hati

•       ES: supresan terhadap sumsum tulang, komplikasi pada sal.pencernaan, fungsi hati menjadi berat

•       Dosis: 80 mg 2x dalam seminggu, dosis ditambah 20mg setiap 2-4 minggu; dosis maksimum 160 mg 3x dalam seminggu

Hydroxyurea

•       Jarang dipakai

•       MK: menghambat siklus DNA fase S

•       Alternatif retinoid, cyclosporin, dan methotrexate

•       Dosis: 1 g perhari, bisa ditingkatkan hingga 2g perhari

•       ES: Depresan sumsum tulang, reaksi kutan, anemia megaloblastik

•       KI: kehamilan (teratogenik), pemakaian dihentikan 6 bulan sebelum hamil

 

Interaksi obat

•       Alkohol + methotrexate ->

Alkohol meningkatkan aktivitas methotrexate dalam menginduksi sirosis dan fibrosis hati

•       Alkohol + retinoid ->

Alkohol meningkatkan kadar serum etretinate pada pasien yang mengonsumsi acitretin

•       Antineoplastik + vaksin ->

Respon imun bisa ditekan oleh obat antineoplastik (sitotoksik). Efektivitas vaksin bisa menurun dan pasien bisa terkena infeksi dengan mudah

•       Methotrexate + folinat à

Asam folat/ asam folinat kadang ditambahkan dengan dosis rendah dalam pengobatan methotrexate untuk menurunkan efek samping

•       Mehotrexate + NSAIDs ->

Meningkatkan toksisitas methotrexate karena beberapa NSAIDs dapat mengubah farmakokinetiknya

•       Methotrexate + antibakteri; tetrasiklin ->

Toksisitas methotrexate meningkat jika pengobatan dikombinasi dengan  tetrasiklin atau doksisiklin

•       Methotrexate + theohylline ->

Theophylline dapat mereduksi induksi neurotoksik oleh methotrexate, atas dasar ini diduga efikasi methotrexate pun akan berkurang

•       Methotrexate + kafein ->

Kafein menurunkan efikasi dari methotrexate

•       Methotrexate + amiodarone —

Toksisitas methotrexate meningkat jika pengobatan dikombinasi dengan amiodarone

•       Methotrexate + retinoid ->

Terjadi peningkatan toksisitas pada hati oleh methotrexate

•       Ciclosporin + corticosteroids ->

Ciclosporin mereduksi pengeluaran corticosteroid

•       Terapi PUVA + obat herbal ->

Terjadi fotosensitisasi jika mengonsumsi Ruta graviolens atau sup seledri

•       Thiazide diuretics + calcium dan / atau vit D ->

Terjadi hiperkalsemia

 

Kasus:

Seorang pria kulit putih berusia 28 tahun mengeluh gatal ringan, lesi pada kulit berupa eritema  yang cukup luas dan skuama yang berlapis-lapis. Dokter mendiagnosa gejala tersebut sebagai dermatitis seboroik.  Namun setelah diperiksa kembali terlihat bahwa lesi hanya terdapat pada permukaan ekstensor lutut dan siku, tidak pada wajah. Selain itu, skuama yang ada terlihat kering, putih, mengkilat dan jika skuama diangkat terlihat basah bintik perdarahan dari kapiler  yang tidak lazim ditemukan pada dermatitis seboroik. Dokter pun mendiagnosanya sebagai psoriasis. Pasien ini adalah seorang pekerja tambang yang sering terpapar matahari selama bekerja.  Riwayat kesehatannya menyatakan  bahwa pasien ini mengalami defisiensi organ hati yang cukup parah. Pasien menyatakan  bahwa dia tidak bisa menggunakan obat topikal dalam jangka waktu yang lama karena tuntutan pekerjaannya. Dokter pun akhirnya menuliskan resep  Anthralin salep 0,5% yang cukup digunakan  ¼ jam sehari sekali untuk penggunaan selama 3 minggu yang disetujui oleh apoteker  yang bertugas.

Jawaban pertanyaan:

•       Bagaimana kerja sulfasalazine sebagai antiinflamasi dengan menghambat 5-lipoksigenase?

•       Sulfasalazine bekerja dengan menghambat protein pengaktivasi jalur 5-lipoksigenase. Jalur 5-lipoksigenase merupakan sintesis sisteinil leukotrien dari asam arakidonat. Sisteinil leukotrien adalah sekumpulan mediator yang terdiri dari LTA4, LTB4, LTC4, LTD4, dan LTE4. Mediator-mediator ini menyebabkan inflamasi pada bronkus dan jaringan perifer, yaitu kulit. Pada kulit yang mengalami psoriasis, tepatnya di sekitar plak-plak yang terbentuk, ditemukan peningkatan kadar leukotrien. Peningkatan kadar leukotrien ini meningkatkan terjadinya inflamasi, yang ditandai dengan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah. Kedua hal ini menyebabkan kulit di bawah dan sekitar plak terlihat kemerahan, berdarah jika digosok, dan kadang menimbulkan benjolan. Dengan sulfasalazine, jalur 5-lipoksigenase dihambat sehingga leukotrien tidak terbentuk dan inflamasi pada kulit dapat ditekan.

Pustaka:

  • Disease of the Hair and Scalp, Blackwell, 1982
  • Drug Interaction, Stockley, 2008
  • Patophysiology of Dermatologic Diseases, Nicholas A. Baden, 1984
  • Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, Joseph T. Dipiro, 2005
  • Pharmacotherapy Handbook 7th ed, Barbara G. Wells, 2009
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: