Ayo farmasis, tunjukkan eksistensi kita!

Sampai saat ini lulusan farmasi baik sarjana maupun apoteker sudah berapa banyak (red:berapa ribu) sih? Lingkungan pekerjaan seperti apa saja yang telah mereka tempuh hingga berabad-abad ini? Sepenting apa sih mereka di dunia kesehatan? Apakah hanya sebagai orang di belakang layar saja? Mana kontribusi mereka seorang profesi kesehatan yang tahu betul soal obat tapi fenomena ini masih terjadi di luar sana?

Saya sebagai sarjana farmasi pun tidak pernah menemukan jawabannya. Tulisan yang saya buat ini, bukan untuk memojokan salah satu pihak, saya hanya mencoba untuk introspeksi diri dan mengajak teman-teman yang memiliki visi yang sama dengan saya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat supaya lebih aware dan care kepada mereka.

Saya ingin bercerita tentang foto yang saya ambil di salah satu puskesmas di kabupaten bandung. Saat saya masih tingkat 4 dan mengerjakan TA di sana. Saya datang ke tempat tersebut pada hari rabu pukul 11.00 WIB, tapi sayangnya puskesmas tersebut sudah tutup. Singkat sekali ya jam kerja di sana, buka jam 08.00 dan tutup jam 11.00. Padahal yang saya tahu seharusnya puskesmas buka dari jam 08.00-14.00.

Saat tiba di sana, sangat sepi sekali. Di tengah kesunyian itu saya memutuskan untuk masuk ke dalam, karena kebetulan sekali pintunya tidak dikunci dan tiba-tiba hujan lebat mengguyur daerah itu, jadi saya berteduh di dalam puskesmas.

Saya mulai berjalan menyusuri dan mengobservasi setiap jengkal ruangan itu. Sampah masih berserakan, buku serta catatan pasien tidak dirapikan di suatu tempat khusus (berkas-berkas itu kan sebenarnya rahasia), obat sisa berceceran dimana-mana. Ironis sekali melihatnya. Saya speechless melihat semua itu. Akhirnya saya coba mendokumentasikan apa yang saya lihat di hari itu.

Ini adalah ruangan pengambilan obat, dapat dilihat di sana, ada pot tanaman di meja yang biasa dipakai untuk melakukan penyiapan obat, ruang interaksi antara pasien dan pemberi obat hanya sebatas setengah lingkaran saja.

Dan ini adalah kotak untuk menyimpan resep yang pasien terima dari dokter untuk ditukarkan dengan obat, terbuat dari kardus bekas dan atas kreativitas petugas puskesmas, wadah ini pun menjadi bermanfaat.

Adapun hal lain yang membuat saya bingung adalah:

Obat sisa di hari itu hanya disapukan ke pojokan tangga, tidak dimasukan ke wadah khusus. Obat sisa yang dibuang disana bermacam-macam, ada tablet, serbuk ruah, kapsul, termasuk etiket dll.

Awalnya saya berpikir positif. Oh, kayaknya petugas kebersihannya lagi sibuk mengerjakan sesuat, belum sempat kembali ke puskesmas ini, dan hujannya masih deras.

Tapi tiba-tiba saya dikejutkan oleh dua orang anak yang berdiri di pintu masuk puskesmas. Mereka sopan sekali, sedikit menunduk ala orang sunda menunjukkan kesopanannya, salah satu dari mereka (sebutlah dani) bertanya teh, kami boleh masuk?. Saya jawab oh, iya boleh. Mau ada apa ya de?.  Sambil melepas sendalnya di teras luar puskesmas dia menjawab mau ambil itu teh, jarinya menunjuk ke arah sampah di pojokan itu. Belum sempat saya menjawab kemudian bersama temannya dani masuk ke dalam. Oh, ternyata mereka pemulung sampah.

Saya pikir, mereka hanya akan mengambil sampai kertas dan dus bekas saja. Tapi ternyata tidak, mereka benar-benar mengambil semua sampah yang ada disana, termasuk obat sisa yang ada disana. Lalu saya berkata de, obat sisa itu jangan diambil, simpen aja, biar petugas puskesmas yang bersihin, ade ambil kertas bekasnya aja. Dani menjawab, ga apa2 teh, biasanya bapak petugasnya yang nyuruh kita bersihin ini, dan ngambilin obat sisanya juga.

Saya kaget banget ! (Gila ni orang, nyuruh-nyuruh anak pemulung buat ngerjain tugas yang seharusnya jadi tanggung jawabnya!). Ini bukan masalah kecil!

Saya pun bertanya lagi kepada mereka, nanti kalian mau bawa kemana obat-obatan in? Isinya ka masih banyak?. Lagi-lagi dani yang menjawab, nanti dijual ke tukangnya teh, yang suka ngumpulin obat sisa, dani menjawab dengan polos sekali sambil memasukkan oabt sisa itu ke dalam kardus.

Waduh de, jangan diambil ya, saya mencoba merayu mereka, berat loh de bawa barang sebanyak ini. Kali ini teman dani yang menjawab (sebut saja ali) ga apa-apa teh, biasanya kita bawa barang lebih banyak dari ini.

Ya ampun, saya udah kehilangan akal. Obat sisa itu harus diamankan. Saya panik dan bingung, (masa iya, saya harus masukin semua itu ke tas biar dani sama ali ga menjualnya ke bandar.)

Saya telah dikalahkan oleh dua orang anak kecil di hari itu. Saya hanya bisa melarang dan itu pun tidak mempan. Mereka sangat bersikeras sekali dan saya tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya lantai di pojokan tangga itu bersih tanpa ada serbuk ruah obat yang tersisa. Mereka pun segera bergegas keluar untuk memisahkan obat sisa yang masih bagus dari wadahnya ke karung yang telah mereka siapkan.

Saat mereka sedang asyik memisahkan obat sisa itu saya tetap meminta agar obat itu jangan dibawa, dan mereka menjawab (sepertinya dengan rasa kesal karena saya terus memohon kepada mereka), teteh, petugasnya aja nyuruh kita bawa kok, kenapa teteh yang malah sibuk ngelarang kita?

Wadooh, ni bocah pinter juga! Tapi siapa sih nih yang harus bertanggung jawab!><

Saya jadi tidak heran jika masih banyak oknum yang menyalahgunakan obat, menjual obat secara ilegal dariobat bekas lalu kemasan dipoles ataupun diganti seperti tampak baru lalu dijual ke warung-warung, juga membuat obat baru dengan memcampurkan obat-obatan sisa untuk dibuat menjadi obat yang bisa membuat kecanduan.

Sesudah itu  hanya saya bisa diam, melihat gerak-gerik mereka saat merapikan barang sampai mereka pergi menuju ke tempat selanjutnya untuk mencari barang bekas yang bisa mereka jual .

Sesudah hujan reda, saya pun memutuskan untuk pulang saja dan kembali ke puskesmas itu di lain waktu. Sepanjang perjalanan pulang saya tetap memikirkan sebenarnya apa sih yang menjadi akar permasalahan ini?

Pernah terbesik keinginan dan tertanam di pikiran saya bahwa saya harus mau bekerja di daerah terpencil contohnya seperti puskesmas ini. Tapi setelah berdiskusi dengan dosen, membaca artikel kefarmasian, ternyata saat ini peran farmasis belum dirasa penting baik itu oleh pemerintah maupun masyarakat. Selalu saja ada anggapan bahwa dengan adanya asisten apoteker (lulusan SMF) atau diploma farmasi, sudah cukup kok. Lalu kenapa harus mempekerjakan farmasis, dalam arti nambah-nambah anggaran negara aja. Jadi sampai sekarang, bahkan teman-teman sejawat saya mengatakan bahwa, kami sangat ingin berbakti kepada bangsa ini, tapi hargai kami layaknya profesi kesehatan yang lain. Jadi jangan heran kalau selama ini kami mencari pekerjaan di perusahaan swasta/industri.

—-

Mungkin itulah yang ingin saya sampaikan. Mari saling menghargai peran dan tanggung jawab dari masing-masing profesi dengan tidak merendahkan profesi yang lain. Mari kita bekerja sama dan mensinergikan kemampuan kita untuk memajukan bangsa ini dengan selalu memberikan yang terbaik demi tercapainya pharmaceutical care (pelayanan kefarmasian) yang paripurna. Semangat!

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater. Merdeka!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: